Rabu, 09 Desember 2009

Keberanian


Oleh HM. Anis Matta Lc.

Saudara yang paling dekat dari naluri kepahlawan adalah keberanian. Pahlawan sejati selalu merupakan seorang pemberani sejati. Tidak akan pernah seseorang disebut pahlawan jika ia tidak pernah membuktikan keberaniannya. Pekerjaan-pekerjaan besar atau tantangan-tantangan besar dalam sejarah selalu membutuhkan kadar keberanian yang sama besarnya dengan pekerjaan dan tantangan itu. Karena pekerjaan dan tantangan besar itu selalu menyimpan risiko. Dan, tak ada keberanian tanpa risiko.

Naluri kepahlawan adalah akar dari pohon kepahlawanan. Tapi keberanian adalah batang yang menegakkannya. Keberanian adalah kekuatan yang tersimpan dalam kehendak jiwa, yang mendorong seseorang untuk maju menunaikan tugas — tindakan atau perkataan-^- demi kebenaran dan kebaikan, atau untuk mencegah suatu keburukan, dan dengan menyadari sepenuhnya semua kemungkinan risiko yang akan diterimanya.

Cobalah perhatikan ayat-ayat jihad dalam AI-Qur’an. Perintah ini hanya dapat terlaksana di tangan para pemberani. Dan cobalah perhatikan betapa AI-Qur’an memuji ketegaran dalam perang, membenci para pengecut dan orang-orang yang takut pada risiko kematian. Apakah yang dapat kita pahami dari hadits riwayat Muslim ini: "Sesungguhnya pintu-pintu surga itu berada di bawah naungan pedang?" selain dari betapa kuatnya keberanian mendekatkan kita ke surga? Maka dengarlah pesan Abu bakar kepada tentara-tentara Islam yang akan berperang: "Carilah kematian niscaya kalian akan mendapatkan kehidupan."

Sebagian dari keberanian itu adalah fitrah yang tertanam dalam diri seseorang. Sebagian yang lain biasanya diperoleh melalui latihan. Keberanian fitrah maupun perolehan melalui latihan, selalu mendapatkan pijakan kuat pada kekuatan kebenaran dan kebajikan, keyakinan dan cinta yang kuat terhadap prinsip dan jalan hidup, kepercayaan pada hari akhirat, serta kerinduan yang menderu-deru untuk bertemu Allah. Semua itu adalah mata air yang mengalirkan keberanian dalam jiwa seorang mukmin. Bahkan, meski kondisi fisiknya tak terlalu mendukungya, seperti jenis keberanian Ibnu Mas'ud dan Abu Bakar. Tapi menjadi lebih berani dengan dukungan fisik, seperti keberanian Umar, Ali, dan Khalid.

Tapi Islam hendak memadukan antara keberanian fitrah dan keberanian iman. Maka beruntunlah ajaran-ajarannya menyuruh umatnya melatih anak-anak untuk berenang, berkuda, dan memanah. Dengarlah sabda Rasulullah SAW, "Ajarilah anakmu berenang sebelum menulis. Karena ia bisa diganti orang lain jika ia tak pandai menulis, tapi ia tidak dapat diganti orang lain jika tak mampu berenang." Dengar lagi sabdanya, "Kekuatan itu pada memanah, kekuatan itu pada memanah, kekuatan itu pada me¬manah." Itu semua sekelompok keterampilan fisik yang mendukung munculnya keberanian fitrah. Tinggal lagi keberanian iman. Maka dengarlah nasehat Umar, "Ajarkanlah sastra kepada anak-anakmu, karena itu dapat mengubah anak yang pengecut menjadi pemberani."

Kepada orang-orang Romawi yang berlindung di balik benteng di Kinnasrin, Khalid berkata, "Andaikata kalian bersembunyi di langit, niscaya kuda-kuda kami akan memanjat langit untuk membunuh kalian. Andaikata kalian berada di perut bumi, niscaya kami akan menyelami bumi untuk membunuh kalian." Dan, roh keberanian itu memadai untuk mematikan semangat perlawanan orang-orang Romawi. Mereka takluk. Mungkinkah kita mendengar ungkapan itu lagi hari ini?


Sumber : Tarbawi Edisi 3 Th. I 31 Agustus 1999 M/19 Jumadil Awal 1420 H

Kamis, 03 Desember 2009

KETERANGAN DAN RAHASIA TENTANG TIDAK DITUNJUKNYA PENGGANTI RASULULLAH

Al Bazzar dalam musnadnya berkata, “ Abdullah bin Wadhdhah Al Kufi berkata kepada kami, Yahya bin Al Yamani berkata kepada kami dari Abi Al Yaqzhan dari Abi Wail dari Hudzaifah berkata,” Para sahabat bertanya, “ Wahai Rasulullah, tidakkah engkau menunjuk pengganti yang memimpin kami sepeninggalmu nanti?” Rasulullah berkata,”Sesungguhnya jika aku menunjuk penggantiku, aku khawatir kalian akan menentang penggantiku itu dan Allah akan menurunkan azab atas kalian.” ( HR.Al Hakim dalam Al Mustadrak, tetapi Abu Al Yaqzhan haditsnya lemah ).

Imam Al Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Umar bin Khaththab bahwa tatkala dia berada diatas pembaringannya setelah ditusuk oleh Abu Lu’luah; “ Jika saya menentukan penggantiku, maka telah ada orang yang lebih baik dari aku yang melakukan itu ( maksudnya Abu Bakar ). Dan jika aku tidak menentukan penggantiku, maka itu pun telah dilakukan oleh orang yang lebih baik dari diriku ( maksudnya Rasulullah ).”

Imam Ahmad, dan juga Imam Al Baihaqi dalam kitab Dalail An Nubuwwah dengan sanad yang hasan dari Amr bin Sufyan dia berkata, “ Tatkala Ali memenangkan perang Jamal, dia berkata, “ Wahai sekalian manusia , sesungguhnya kami dahulu tidak menunjuk seorang pun dalam masalah kepemimpinan ini hingga kami sepakat untuk mengangkat Abu Bakar sebagai Khalifah pengganti Rasulullah. Dia menunaikan kekhalifahan itu dengan jujur dan lurus hingga menemui ajalnya. Kemudia Abu Bakar menunjuk Umar sebagai penggantinya. Lalu Umar menunaikan kekhalifahan itu dengan jujur dan sangat baik dalam agamanya. Namun kemudian muncul berbagai masalah yang Allah tentukan.”

Al Hakim meriwayatkan di dalam Al Mustadrak dan dinyatakan shahih oleh Imam Al Baihaqi dalam Dalail An Nubuwwah dari Abi Wail dia berkata : dikatakan kepada Ali,” Tidakkah engkau tentukan pengganti yang memimpin kami?” Dia menjawab,” Rasulullah tidak menentukan penggantinya atas kami. Namun jika Allah menginginkan kebaikan, niscaya dia akan menghimpun manusia kepada orang terbaik diantara mereka, sebagaimana dia telah kumpulkan perkara ini kepada orang terbaik setelah nabi mereka.”

Adz Dzahabi berkata,” Ada kebatilan – kebatilan yang datang dari kalangan Rafidhah yang menyatakan bahwa Rasulullah mewasiatkan kepada Ali untuk menjadi penggantinya. Mengenai hal ini, Hudzail bin Syarahbil berkata,” Apakah dengan demikian Abu Bakar melakukan konspirasi kepada Ali, sebab Abu Bakar mengetahui tentang adanya wasiat itu pada Ali lalu dia sumpal mulutnya dengan tali kekang?” ( HR. Ibnu Sa’ad dan Al Baihaqi dalam Dalail)

Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Al Hasan, dia berkata, Ali berkata. “ Tatkala Rasulullah wafat kita melihat bagaimana yang harus kita lakukan setelah meninggalnya Rasulullah. Setelah kami memandang dengan seksama maka kami dapatkan Rasulullah telah mengutamakan Abu Bakar untuk menjadi imam shalat sebagai pengantinya. Makanya kami rela menyerahkan urursan dunia kami kepada orang yang Rasulullah sendiri rela menyerahkan urusan agama kami kepadanya. Lalu kami majukan Abu Bakar sebagai pengganti Rasulullah.”

Imam Al Bukhari dalam buku tarikhnya menyatakan : diriwayatkan dari Ibnu Jamhan dari Safinah bahwa Rasulullah berkata mengenai Abu Bakar, Umar dan Utsman :

“ Mereka adalah para khalifah setelah aku.”

Imam Bukhari menyatakan : namun hadits ini tidak bisa diikuti karena Umar, Ali dan Utsman mengatakan bahwa Rasulullah tidak menentukan penggantinya setelah wafatnya. Hadits yang disebutkan diatas diriwayatkan oleh Ibnu Hibban. Dia berkata, telah berkata kepada kami Abu Ya’la, telah berkata kepada kami Yahya Al Jamani, telah berkata kepada kami Hasyraj dari Said bin Jamhan dari Safinah dia berkata, tatkala Rasulullah membangun masjid, beliau meletakkan satu batu dalam bangunan masjid itu. Beliau berkata kepada Abu Bakar,” Letakkan batumu disamping batuku tadi.” Kemudian baliau berkata kepada Umar,” Letakkan batumu disamping batu Abu Bakar.” Selanjutnya beliau berkata kepada Utsman, “ Letakkan batumu disamping batu Umar.” Kemudian Rasulullah berkata:

“ Mereka adalah para khalifah setelah aku.”

Abu Zur’ah berkata, isnad hadits ini tidak ada yang tercela. Hadits ini juga diriwayatkan Al Hakim dalam kitabnya Al Mustadrak, yang dinyatakan keshahihannya oleh Imam Al Baihaqi dalam Ad Dalail.

Saya katakan bahwa tidak ada yang bertentangan antara apa yang dinyatakan Rasulullah dengan apa yang dikatakan oleh Umar dan Ali bahwa Rasulullah tidak menentukan penggantinya. Karena yang dimaksud oleh keduanya adalah bahwa Rasulullah saat wafatnya tidak menunjuk siapa penggantinya. Sedangkan isyarat Rasulullah yang disebutkan dalam hadits terungkap jauh – jauh sebelum wafat beliau. Ini sama dengan hadits Rasulullah dalam hadits yang lain:

“ Hendaknya kalian mengikuti sunnahku dan sunnah para Khulafa’ur Rasyidin yang mendapat petunjuk setelah aku.” ( HR.Al Hakim dari hadits Al Irbadh bin Sariyah )

Dan sebagaimana juga sabdanya :

“ Ikutilah jejak langkah dua orang setelah wafatku, Abu Bakar dan Umar.”

Dan masih banyak lagi hadits – hadits lain yang mengisyaratkan pada khalifah.


Sumber : Buku Tarikh Khulafa’, Karya Imam As Suyuti Penerbit : Pustaka Al Kautsar
 

ShoutMix chat widget

[close]