Kamis, 21 Januari 2010

UMMUL MUKMININ, MAIMUNAH BINTU AL HANTS

Kecintaannya Kepada Kerabatnya Tidak Menghalangi Untuk Mengingkari Kemungkaran

Tidak seperti raja atau ratu manapun di dunia ini, kehormatan dan kemuliaan yang Allah limpahkan kepada penutup para rasulNya, Muhammad dan juga para istri beliau, merupakan kemuliaan dan kehormatan yang abadi, langgeng dan berlanjut hingga kehidupan di akhirat nanti. Para istri Nabi telah meraih kehormatan tertinggi, yang tidak diraih oleh wanita manapun di dunia ini. Allah berfirman:

” Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa (QS al Ahzah32).

Mereka tidak hanya mulia di dunia ini, tetapi di akhirat kelak, juga tetap berada pada derajat tertinggi. Berada di surga bersama suami tercinta, Rasulullah Muhammad SAW yang telah mendapat janji Allah berupa derajat tertinggi di surgaNya.

Di antara istri Rasulullah yang patut kita jadikan tauladan dalam ketakwaan dan semangat dalam berittiba’ kepada Sunnah Rasulullah adalah Maimunah bintu al Harits bin Hazn bin al Huzm bin Ruwaibah bin Abdillah bin Hilal bin ‘Amir bin Sha’sha’ah al Hilaliyah RA . Beliau merupakan saudari kandung Ummu al Fadhl istri al ‘Abbas paman Nabi, sekaligus bibi dari beberapa sahabat utama, di antaranya ‘Abdullah bin ‘Abbas, Khalid bin Walid bin Mughirah dan Yazid bin al Asham .

Sebelum dipersunting Rasulullah, Maimunah bernama Barrah dan bersuamikan seorang laki-laki bernama Mas’ud bin ‘Amr ats Tsaqafi. Namun takdir Allah menentukan, jodoh beliau tidak terhenti pada Mas’ud bin ‘Amr. Menjelang datangnya Islam, suami pertamanya ini menceraikannya. Kemudian ia menikah dengan Abu Ruhm bin Abdul ‘Uzza. -Pernikahannya dengan suami keduanya ini juga tidak berlangsung lama. Maimunah kembali harus menelan kesedihan. Bukan karena dicerai, tetapi lantaran sang suami meninggal.

Masa ‘iddah beliau lewati dengan penuh kesabaran dan ketabahan, hingga Allah menggantikan musibah yang menimpanya dengan kebaikan dan kebahagiaan berlipat ganda. Seusai masa ‘iddahnya, al ‘Abbas menyebutkan per ihal Maimunah kepada Nabi . Dia sangat berharap Nabi mau mempersunting adik iparnya tersebut, lantaran keistimewaan dan keshalihan yang ia ketahui pada diri Maimunah.

Nabi pun mengakui keutamaan dan ketakwaan wanita mulia ini, hingga beliau pun berniat menikahinya. ‘Ali bin ‘Abdullah bin ‘Abbas menuturkan kisah pernikahan Nabi dengan Maimunah ” Tatkala Rasulullah hendak pergimenuju Mekah pada tahun al Qadhiyyah,2 beliau mengutus Aus bin Khauliy dan Abu Rafi’ kepada al ‘Abbas, (agar) al Abbas menikahkan Maimunah dengan beliau. (Namun)kedua utusan itu kehilangan tunggangan, hingga mereka (terpaksa) tinggal untuk beberapa hari di Rabigh sampai Rasulullah menemui mereka.

Kemudian, mereka pun menemukan kembali tunggangan mereka dan berangkat bersama Rasulullah hingga tiba di Mekah. Rasulullah mengutus utusan kepada al Abbas untuk menyampaikan maksud beliau. Maimunah pun menyerahkan urusannya kepada Nabi,3 kemudian al Abbas membawa Maimunah kepada Nabi dan menikahkannya dengan beliau”.4

Kala itu usia Maimunah RA sekitar dua puluh enam tahun. Mahar yang Nabi hadiahkan kepada Maimunah RA berupa uang sejumlah lima ratus dirham. Beliau juga mengganti namanya yang semula Barrah menjadi Maimunah. Yazid bin al Asharn mengatakan, bahwa Rasulullah menikahi Maimunah RA setelah beliau bertahallul dari ihramnya.5

Pernikahan beliau dengan Maimunah ini memberikan arti penting dan motivasi tersendiri bagi kaum Maimunah untuk masuk ke dalam Islam. Setelah berlalu tiga hari, sesuai kesepakatan dengan Quraisy, Rasulullah SAW dan para sahabat segera meninggalkan kota Mekkah. Hingga beliau tiba di Sarif 6 dan membangun sebuah kubah (tenda) untuk Maimunah. Di kubah inilah pertama kali Rasulullah berkumpul dengan Maimunah.

Maimunah RA merupakan wanita terakhir yang Rasulullah nikahi dan memiliki kedudukan mulia di sisi beliau. Rasulullah pernah berkomentar tentangnya, “(Tiga) wanita bersaudara yang beriman, (yaitu) Maimunah, Ummu al Fadhl7 dan Asma.8“.

‘Aisyah juga pernah melontarkan pujian terhadap Maimunah setelah wafatnya; “Sesungguhnya Maimunah adalah wanita yang paling bertakwa di antara kami, dan yang paling baik dalam menyambung tali silaturahmi”.9

Kiranya tidaklah berlebihan pujian yang mereka berikan kepada Maimunah. Banyak sikap dan perilaku beliau yang patut kita contoh sebagai manifestasi nyata dari keimanan dan ketakwaan.

Yazid bin al Asham mengisahkan , “Pernah salah seorang kerabat Maimunah datang mengunjungi rumahnya. Maimunah mendapati bau minuman keras pada saudaranya itu. Lantas ia berkata kepadanya.’Jika kamu tidak mau keluar menemui kaum Muslimin hingga mereka mencambukmu, atau mensucikanmu, maka janganlah kamu menemuiku selamanya’.”10

Renungkanlah sikap tegas beliau terhadap kerabatnya ini. Betapa bijaknya cara beliau menjaga tali silaturahmi. Kecintaan beliau kepada kerabatnya itu tidak menghalanginya untuk mengingkari kemungkaran. Inilah perwujudan cinta dan benci yang dilandasi karena Allah semata. Dan ketika Maimunah mengetahui keutamaan bersiwak, ia tak pernah meninggalkannya sepanjang hidupnya.

Yazid bin Al Asham menuturkan : “Adalah kayu siwak milik Maimunah senantiasa tercelup basah ke dalam air, jika pekerjaan atau shalat menyibukkannya. Jika tidak, maka ia segera bersiwak dengannya”.11

Demikianlah sosok Maimunah, salah seorang Ummul Mukminin yang begitu taat kepada Allah SWT dan RasulNya. Begitu menjaga kehormatan dirinya dengan senantiasa diam di rumahnya, Tidaklah ia keluar tanpa seizin Nabi SAW. Hingga ketika Nabi sakit dan menjelang wafatnya di bilik ‘Aisyah, ia tidak berani keluar dari rumahnya untuk menemui Nabi SAW sampai beliau mengizinkannya untuk turut menemani beliau di sisi ‘Aisyah.

Ajal menjemput beliau pada tahun lima puluh satu hijriyah. Saat itu beliau berusia sekitar delapan puluh tahun.12 Sebelum wafatanya, ia berwasiat agar dikuburkan di Sarif. Tepatnya di kubah tempat ia berkumpul pertama kali bersama Nabi.

Abdullah bin Abbas RA, berkata kepada sahabat pada saat prosesi pemakamannya: “Berlaku lemah-lembutlah kepadanya, karena ia adalah ibu kalian”.13

Semoga rahmat dan ridha Allah senantiasa terlimpah pada beliau.

(Hanin Ummu Abdillah}

Maraji’ dan Mashadir,

1. Al Qur’an dan terjemahnya, Cet Mujamma’ Malifc Fahd, Saudi Arabia.

2 Ath Thabaqat al Kubra, Muhammad bin Sa’ad bin Manf Abu Abdillah al Bashri az Zuhri (168-230 H), Daar Shadir, Beirut.

3. Al Isti’ab fi Ma’rifat al Ashab, Yusuf bin Abdillah bin Muhammad bin Abdil Barr (463 H), tahqiq Ali Muhammad al Bajawi, Daar al Jiil, Beirut, Cet. I. Th 1412 H.

4. SiyarAlam an Nubala, adz Dzahabi, tahqiq Syu’aib al Arna’uth, Mu’assasah ar Risalah, Beirut, Libanon. Cet XI, Th. 1422 H/ 2001M.

5. ZaadalMa’ad, Ibnu al Qayyim (691-751 H), tahqiq Syu’aib al Arna’uth dan Abdul Qadir al Arna’uth, Mu’assasah ar Risalah, Beirut. Libanon, Cet. ID, Th. 1423 H/2002 M.

6. Al Ishabah n Tamyiz ash Shahabah, Ibnu Hajar al ‘Asqalani (773-852 H), tahqiq Ali Muhammad al Bajawi, Daar al Jiil, Beirut, Cet. I, Th. 1412 H/1992M.

7. As Sirah an Nabawiyah fi Dhau’i al Mashadir alAshliyah, Dr. Mahdi Rizqullah Ahmad, Markaz Malik Faishal lil Buhuts waadDirasatalIslamiyah,Cet.I,Th. 1412 H/1992 M dan lain-lain.

Footnote :

1. Sebagian ahli sejarah berpendapat bahwa suami kedua beliau adalah Sukhbarah bin Abi Ruhm, atau Huwaithib bin Abdul ‘Uzza. Lihat al Ishabah (8/126).

2. Yakni tahun ke tujuh Hijriyah ketika beliau hendak menunaikan umroh. Lihat catatan kaki dari pentahqiq Siyar A’lam an Nubala (2/ 239).

3. Demikian perkataan seorang perawi, namun Imam adz Dzahabi berkomentar bahwa yang benar adalah Maimunah menyerahkan urusannya kepada al ‘Abbas. Lihat Siyar A’lam an Nubala (2/239).

4. At Thabaqat al Kubra (8/132).

5. HR Muslim (2/1032 no 1141), Ibnu Majah (1/632 no 1964). dan al Baihaqi (5/66 no 8942). Dalam masalah ini terdapat perselisihan ulama_yang cukup panjang, karena ada beberapa riwayat dari Ibnu Abbas yang mengatakan Rasulullah |g menikahi Maimunah ^ dalam keadaan ihram. Lihat al Ishabah (8/127).Dan Imam Ibnu al Qayyim berpendapat bahwa yang rajih adalah pendapat yang mengatakan Rasulullah n menikahi Maimunah ^ setelah beliau bertahallul dari ihram. Lihat Zaad al Ma’ad (1/109).

6. Yakni satu daerah dekat Tan’im. Lihat catatan kaki pentahqiq Zaad al Ma’ad (1/109).

7. Yakni Ummu al Fadhl Lubabah al Kubra bintu al Harits, saudari kandung Maimunah. Lihat al Ishabah (8/97).

8. Yakni Asma’ bintu ‘Umais, saudari seibu dengan Maimunah. Lihat al Ishabah (7/484). Lihat Ath Thabaqat al Kubra (8/138).

9. Lihat footnote sebelumnya.

10. Ath Thabaqat al Kubra (8/139).

11. Lihat footnote sebelumnya.

12. Al Ishabah (8/128). Taqrib at Tahdzib hlm!373.

13. Ath Thabaqat al Kubra (8/138).

Sumber : Majalah As Sunnah

Rabu, 20 Januari 2010

Rahasia Ittiba’ Rasulullah

Satiap orang yang meyakini Islam sebagai agamanya, pada hakikatnya telah menyatakan persaksian dan pengakuannya dengan dua kalimat syahadat asyhadu an laa ilaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah. Artinya, aku bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah, dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah. Demikian juga halnya dengan orang yang hendak masuk Islam, maka dia wajib mengucapkan dua kalimat syahadat tersebut.

Asyhadu an laa ilaha illallah, yang berarti “aku bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak di ibadahi kecuali Allah”, mengandung makna laa ma’buda bihaqqin ilallah ( tidak ada yang berhak disembah dengan benar kecuali hanya Allah ).

Adapun makna syahadat Muhammad Rasulullah ii wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah adalah, tidak ada yang diikuti
dengan benar kecuali hanya Muhammad Rasulullah. Konsekuensinya, seseorang itu harus mengikuti petunjuk Rasulullah. Karena, sebagaimana dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah:
Kebahagiaan itu disebabkan mengikuti petunjuk Rasulullah. Sedangkan kesesatan dan celaka disebabkan karena menyalahi petunjuk beliau. Sesungguhnya, setiap kebaikan di alam semesta ini, baik yang umum atau khusus, sumbernya dari diutusnya Rasul. Begitu juga semua kejelekan di alam semesta yang menimpa manusia, disebabkan penyimpangannya terhadap petunjuk Rasul dan tidak mengetahui apa yang dibawa beliau SAW. Bahwasanya kebahagiaan manusia dalam kehidupan dunia dan akhirat disebabkan ittiba’(mengikuti petunjuk Rasulullah). Risalah kenabian dibutuhkan oleh seluruh makhluk. Kebutuhan mereka terhadap risalah Rasulullah melebihi seluruh kebutuhan lainnya. Diutusnya Nabi Muhammad merupakan ruh, cahaya dan kehidupan bagi semesta alam.

Berkenaan dengan ittiba’ kepada Rasulullah, di dalam al Qur’an surat Ali Imran ayat 31, Allah menyatakan, : Katakanlah : “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Imam Ibnu Katsir (wafat th. 774 H) menyatakan, ayat ini sebagai pemutus hukum bagi setiap orang yang mengaku cinta kepada Allah namun tidak mau menempuh jalan Rasulullah, maka orang tersebut dusta dalam pengakuannya, sampai dia mengikuti syari’at dan agama yang dibawa Rasulullah dalam semua ucapan dan perbuatannya. Sebagaimana terdapat dalam Shahih Muslim, Rasulullah juga bersabda :
” Barangsiapa yang beramal tanpa adanya tuntunan dari kami, maka amalan tersebut tertolak.”

Di dalam ayat-ayat al Qur’an dan hadits-hadits Nabi yang shahih disebutkan tentang amal-amal yang diterima dan ditolak oleh Allah. Supaya amal kita diterima Allah, maka harus memenuhi dua syarat Pertama, ikhlas karena Allah. Dan kedua, ittiba’ kepada Rasulullah. Jika salah satu di antara keduanya tidak dipenuhi, maka tidak akan diterima amal tersebut oleh Allah. Orang ikhlas tetapi tidak ittiba’ kepada Rasulullah, atau sebaliknya dia berittiba’ kepada Rasulullah namun tidak ikhlas dalam beramal, maka tidak akan diterima amal ibadahnya.

Ittiba’ ini menjadi syarat jaminan bagi seseorang untuk dimasukkan ke dalam Surga. Rasulullah bersabda : “Setiap ummatku akan masuk surga, kecuali yang enggan”. Para sahabat bertanya, “Siapa yang enggan, ya Rasulullah?” Rasulullah menjawab,”Sarangsiapa yang taat kepadaku, maka dia masuk surga. Dan barangsiapa yang durhaka kepadaku, maka dialah yang enggan.” (HR Imam Bukhari no. 7280 dari sahabatAbu Hurairah).

Dengan ittiba’ kepada Rasulullah, kita akan mendapatkan petunjuk dan rasa aman, kemenangan dan kemuliaan, pertolongan, dukungan, ketenangan hidup dunia dan akhirat. Orang-orang yang menyalahi Sunnah Rasulullah akan mendapatkan kehinaan dan kerendahan, rasa takut, kesesatan, kecelakaan di dunia dan akhirat. Wallahu Waliyyu at-Taufiq.

Sumber : Majalah As Sunnah

Rabu, 13 Januari 2010

MUSUH YANG DIPERANGI ISLAM

Musuh yang diperangi oleh Islam dan kaum muslimin itu ada tiga kelompok. Pertama, musuh – musuh yang memerangi kita karena Din ( Agama ). Kedua, orang – orang yang menolong musuh kaum muslimin untuk menyerang dan mengalahkan kaum muslimin. Ketiga, para musuh yang menyerang negeri kaum muslimin dan merebutnya.


Dalam beberapa ayat dan hadits terdapat keterangan, bahwa musuh – musuh jenis ini wajib diperangi. Ini adalah masalah hukum jihad. Akan tetapi kita juga harus mengetahui penerapan hukum ini pada kenyataan. Yaitu: ( Pertama ), Bahwa tidaklah ada jihad, kecuali dengan perintah para ulama dan hukkam ( Pemerintah ). Tidak boleh seseorang mengatakan “ aku ingin berjihad “, lalu dia keluar dengan membawa bendera, sehingga akan menimbulkan akibat – akibat yang tidak dikehendaki, mendapatkan hasil – hasil yang tidak dicari,dan yang terbunuh adalah kaum muslimin, bukan musuh – musuh mereka. ( Kedua ), Kaum muslimin memiliki kemampuan untuk memerangi musuh, menghalau penyerangan, dan mengalahkan orang – orang kafir. Jika mereka tidak memiliki kemampuan, maka Allah tidak membebani satu jiwa, kecuali yang ia mampu.


Ketika itu mereka wajib melaksanakan firman Allah SWT :


“ …. Dan persiapkan buat menghadapi mereka ….. “ ( QS. Al Anfal : 60 )


Mereka harus mulai malakukan persiapan, dan persiapan tarbiyah ( pembinaan ) iman lebih urgent daripada persiapan materi,baru kemudian setelah itu persiapan materi. Jika dua jenis persiapan ini sudah sempurna pada mereka, maka mereka pantas utnuk menolong Din Allah ini, pantas mendapatkan kekhalifahan dan kejayaan di muka bumi.


Syeikh Salim Bin ‘Id Al Hilali

Rabu, 09 Desember 2009

Shollu 'alan Nabiy

Oleh KH. Rahmat Abdullah

Apa yang Tuan fikirkan tentang seorang laki-laki berperangai amat mulia, yang lahir dan dibesarkan di celah-celah kematian demi kematian orang-orang yang amat mengasihinya? Lahir dari rahim sejarah, ketika tak seorangpun mampu mengguratkan kepribadian selain kepribadiannya sendiri. la produk ta'dib Rabbani (didikan Tuhan) yang menantang mentari dalam panasnya dan menggetarkan jutaan bibir dengan sebutan namanya, saat muaddzin mengumandangkan suara adzan. Di rumahnya tak dijumpai perabot mahal. la makan di lantai seperti budak, padahal raja - raja dunia iri terhadap kekokohan struktur masyarakat dan kesetiaan pengikutnya. Tak seorang pembantunya pun mengeluh pernah dipukul atau dikejutkan oleh pukulannya terhadap benda - benda di rumah.

Dalam kesibukannya ia masih bertandang ke rumah puteri dan menantu tercintanya, Fathimah Azzahra dan Ali bin Abi Thalib. Fathimah merasakan kasih sayangnya tanpa membuatnya jadi manja dan hilang kemandirian. Saat Bani Makhzum memintanya membatalkan eksekusi atas jenayah seorang perempuan bangsawan, ia menegaskan; "Sesungguhnya yang membuat binasa orang - orang sebelum kamu ialah, apabila seorang bangsawan mencuri mereka biarkan dia dan apabila yang mencuri itu seorang jelata mereka tegakkan hukum atasnya. Demi Allah, seandainya Fathimah anak Muhammad mencuri, maka Muhammad tetap akan memotong tangannya." Hari-harinya penuh kerja dan intaian bahaya. Tapi tak menghalanginya untuk - lebih dari satu dua kali - berlomba jalan dengan Humaira, sebutan kesayangan yang ia berikan untuk Aisyah bintu Abu Bakar Assidiq. Lambang kecintaan, paduan kecerdasan dan pesona diri dijalin dengan hormat dan kasih kepada Asshiddiq, sesuai dengan namanya "si Benar". Suatu kewajaran yang menakjubkan ketika dalam sibuknya ia masih menyempatkan memerah susu domba atau menambal pakaian yang koyak. Setiap kali para sahabat atau keluarganya memanggil ia menjawab: "Labbaik". Dialah yang terbaik dengan prestasi besar di luar rumah, namun tetap prima da­lam status dan kualitasnya sebagai "orang rumah". Di bawah pimpinannya, laki-laki menemukan jati dirinya sebagai laki-laki dan pada saat yang sama perempuan mendapatkan kedudukan amat mulia. "Sebaik-baik kamu ialah yang terbaik terhadap keluarganya dan akulah orang terbaik diantara kamu terhadap keluargaku." "Tak akan memuliakan perempuan kecuali seorang mulia dan tak akan menghina perempuan kecuali seorang hina,”demikian pesannya.

Di sela 27 kali pertempuran yang digelutinya langsung (ghazwah) atau dipanglimai sahabat-nya (sariyah) sebanyak 35 kali, ia masih sempat mengajar Alqur’an, sunnah, hukum, peradilan, kepemimpinan, menerima delegasi asing, mendidik kerumahtanggaan bahkan hubungan yang paling khusus dalam keluarga tanpa kehilangan adab dan wibawa. Padahal, masa antara dua pertempuran itu tak lebih dari 1,7 bulan. Setiap kisah yang dicatat dalam hari - harinya selalu bernilai sejarah. Suatu hari datanglah ke masjid seorang Arab gunung yang belum mengerti adab di masjid. Tiba - tiba ia kencing di lantai masjid yang berbahan pasir. Para sahabat sangat murka dan hampir saja memukulnya. Sabdanya kepada mereka: "Jangan. Biarkan ia menyelesaikan hajatnya." Sang Badui terkagum, ia mengangkat tangannya, Ya Allah, kasihilah aku dan Muhammad. Jangan kasihi seorangpun bersama kami." Dengan senyum ditegurnya Badui tadi agar jangan mempersempit rahmat Allah. la kerap bercengkerama dengan para sahabatnya, bergaul dekat, bermain dengan anak-anak, bahkan memangku balita mereka di pangkuannya. la terima undangan mereka; yang merdeka, budak laki-laki atau budak perempuan, serta kaum miskin. la jenguk rakyat yang sakit jauh di ujung Madinah. la terima permohonan maaf orang. la selalu lebih dulu memulai salam dan menjabat tangan siapa yang menjumpainya dan tak pernah menarik tangan itu sebelum sahabat tersebut yang menariknya. Tak pernah menjulurkan kaki di tengah sahabatnya hingga menyempitkan ruang bagi mereka.

la muliakan siapa yang datang, kadang dengan membentangkan bajunya. Bahkan ia berikan alas duduk-nya dan dengan sungguh-sungguh. la panggil mereka dengan nama yang paling mereka sukai. la beri mereka kuniyah (sebutan bapak atau ibu si Fulan). Tak pernah ia memotong pembicaraan orang, kecuali sudah berlebihan. Apabila seseorang mendekatinya saat ia shalat, ia cepat selesaikan shalatnya dan segera bertanya apa yang diinginkan orang itu. Pada suatu hari dalam perkemahan tempur ia berkata: "Seandainya ada seorang saleh mau mengawalku malam ini. Dengan kesadaran dan cinta, beberapa sahabat mengawal kemahnya. Di tengah malam terdengar suara gaduh yang mencurigakan. Para sahabat bergegas ke sumber suara. Ternyata ia telah ada disana mendahului mereka, tegak diatas kuda tanpa pelana, "Tenang, hanya angin gurun”hibumya. Nyatalah bahwa keinginan ada pengawal itu bukan karena ketakutan atau pemanjaan diri, tetapi pendidikan disiplin dan loyalitas. Ummul Mukminin Aisyah Ra. berkata: "Rasulullah SAW wafat tanpa meninggalkan makanan apapun yang bisa dimakan makhluk hidup, selain setengah ikat gandum di penyimpananku. Saat ruhnya dijemput, baju besinya masih digadaikan kepada seorang Yahudi untuk harga 30 gantang gandum." Sungguh ia berangkat haji dengan kendaraan yang sangat sederhana dan pakaian tak lebih harganya dari 4 dirham, seraya berkata, "Ya Allah, jadikanlah ini haji yang tak mengandung riya dan sum'ah."

Pada kemenangan besar saat Makkah ditaklukkan, dengan sejumlah besar pasukan muslimin, ia menundukkan kepala, nyaris menyentuh punggung untanya sambil selalu mengulang-ulang tasbih, tahmid dan istighfar. la tidak mabuk kemenangan. Betapapun sulitnya mencari batas bentangan samudera kemuliaan ini, namun beberapa kalimat ini membuat kita pantas menyesal tidak mencintainya atau tak menggerakkan bibir mengucapkan shalawat atasnya: "Semua nabi mendapatkan hak untuk mengangkat do'a yang takkan ditolak dan aku menyimpannya untuk ummatku kelak di padang mahsyar nanti." Ketika masyarakat Thaif menolak dan menghinakannya, malaikat penjaga bukit menawarkan untuk menghimpit mereka dengan bu­kit. la menolak, "Kalau tidak me­reka, aku berharap keturunan di sulbi mereka kelak akan mene­rima dawah ini, mengabdi kepada Allah saja dan tidak menyekutukan-Nya dengan apapun."

Mungkin dua kata kunci ini menjadi gambaran kebesaran jiwanya. Pertama, Allah, Sumber kekuatan yang Maha dahsyat, kepada-Nya ia begitu refleks menumpahkan semua keluhannya. Ini membuatnya amat tabah menerima segala resiko perjuangan; kerabat yang menjauh, sahabat yang membenci, dan khalayak yang mengusirnya dari negeri tercinta. Kedua, Ummati, hamparan akal, nafsu dan perilaku yang menantang untuk dibongkar, dipasang, diperbaiki, ditingkatkan dan diukirnya. Ya, Ummati, tak cukupkah semua keutamaan ini menggetarkan hatimu dengan cinta, menggerakkan tubuhmu dengan sunnah dan uswah serta mulutmu dengan ucapan shalawat? Allah tidak mencukupkan pernyataan-Nya bah­wa la dan para malaikat bershalawat atasnya (QS. 33 : 56), justru la nyatakan dengan begitu "vulgar" perintah tersebut, "Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah atasnya dan bersalamlah dengan sebenar-benar salam." Allahumma shalli 'alahi wa'ala aalih!

Sumber : Tarbawi Edisi 3 Th. I 31 Agustus 1999 M/19 Jumadil Awal 1420 H

Keberanian


Oleh HM. Anis Matta Lc.

Saudara yang paling dekat dari naluri kepahlawan adalah keberanian. Pahlawan sejati selalu merupakan seorang pemberani sejati. Tidak akan pernah seseorang disebut pahlawan jika ia tidak pernah membuktikan keberaniannya. Pekerjaan-pekerjaan besar atau tantangan-tantangan besar dalam sejarah selalu membutuhkan kadar keberanian yang sama besarnya dengan pekerjaan dan tantangan itu. Karena pekerjaan dan tantangan besar itu selalu menyimpan risiko. Dan, tak ada keberanian tanpa risiko.

Naluri kepahlawan adalah akar dari pohon kepahlawanan. Tapi keberanian adalah batang yang menegakkannya. Keberanian adalah kekuatan yang tersimpan dalam kehendak jiwa, yang mendorong seseorang untuk maju menunaikan tugas — tindakan atau perkataan-^- demi kebenaran dan kebaikan, atau untuk mencegah suatu keburukan, dan dengan menyadari sepenuhnya semua kemungkinan risiko yang akan diterimanya.

Cobalah perhatikan ayat-ayat jihad dalam AI-Qur’an. Perintah ini hanya dapat terlaksana di tangan para pemberani. Dan cobalah perhatikan betapa AI-Qur’an memuji ketegaran dalam perang, membenci para pengecut dan orang-orang yang takut pada risiko kematian. Apakah yang dapat kita pahami dari hadits riwayat Muslim ini: "Sesungguhnya pintu-pintu surga itu berada di bawah naungan pedang?" selain dari betapa kuatnya keberanian mendekatkan kita ke surga? Maka dengarlah pesan Abu bakar kepada tentara-tentara Islam yang akan berperang: "Carilah kematian niscaya kalian akan mendapatkan kehidupan."

Sebagian dari keberanian itu adalah fitrah yang tertanam dalam diri seseorang. Sebagian yang lain biasanya diperoleh melalui latihan. Keberanian fitrah maupun perolehan melalui latihan, selalu mendapatkan pijakan kuat pada kekuatan kebenaran dan kebajikan, keyakinan dan cinta yang kuat terhadap prinsip dan jalan hidup, kepercayaan pada hari akhirat, serta kerinduan yang menderu-deru untuk bertemu Allah. Semua itu adalah mata air yang mengalirkan keberanian dalam jiwa seorang mukmin. Bahkan, meski kondisi fisiknya tak terlalu mendukungya, seperti jenis keberanian Ibnu Mas'ud dan Abu Bakar. Tapi menjadi lebih berani dengan dukungan fisik, seperti keberanian Umar, Ali, dan Khalid.

Tapi Islam hendak memadukan antara keberanian fitrah dan keberanian iman. Maka beruntunlah ajaran-ajarannya menyuruh umatnya melatih anak-anak untuk berenang, berkuda, dan memanah. Dengarlah sabda Rasulullah SAW, "Ajarilah anakmu berenang sebelum menulis. Karena ia bisa diganti orang lain jika ia tak pandai menulis, tapi ia tidak dapat diganti orang lain jika tak mampu berenang." Dengar lagi sabdanya, "Kekuatan itu pada memanah, kekuatan itu pada memanah, kekuatan itu pada me¬manah." Itu semua sekelompok keterampilan fisik yang mendukung munculnya keberanian fitrah. Tinggal lagi keberanian iman. Maka dengarlah nasehat Umar, "Ajarkanlah sastra kepada anak-anakmu, karena itu dapat mengubah anak yang pengecut menjadi pemberani."

Kepada orang-orang Romawi yang berlindung di balik benteng di Kinnasrin, Khalid berkata, "Andaikata kalian bersembunyi di langit, niscaya kuda-kuda kami akan memanjat langit untuk membunuh kalian. Andaikata kalian berada di perut bumi, niscaya kami akan menyelami bumi untuk membunuh kalian." Dan, roh keberanian itu memadai untuk mematikan semangat perlawanan orang-orang Romawi. Mereka takluk. Mungkinkah kita mendengar ungkapan itu lagi hari ini?


Sumber : Tarbawi Edisi 3 Th. I 31 Agustus 1999 M/19 Jumadil Awal 1420 H

Kamis, 03 Desember 2009

KETERANGAN DAN RAHASIA TENTANG TIDAK DITUNJUKNYA PENGGANTI RASULULLAH

Al Bazzar dalam musnadnya berkata, “ Abdullah bin Wadhdhah Al Kufi berkata kepada kami, Yahya bin Al Yamani berkata kepada kami dari Abi Al Yaqzhan dari Abi Wail dari Hudzaifah berkata,” Para sahabat bertanya, “ Wahai Rasulullah, tidakkah engkau menunjuk pengganti yang memimpin kami sepeninggalmu nanti?” Rasulullah berkata,”Sesungguhnya jika aku menunjuk penggantiku, aku khawatir kalian akan menentang penggantiku itu dan Allah akan menurunkan azab atas kalian.” ( HR.Al Hakim dalam Al Mustadrak, tetapi Abu Al Yaqzhan haditsnya lemah ).

Imam Al Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Umar bin Khaththab bahwa tatkala dia berada diatas pembaringannya setelah ditusuk oleh Abu Lu’luah; “ Jika saya menentukan penggantiku, maka telah ada orang yang lebih baik dari aku yang melakukan itu ( maksudnya Abu Bakar ). Dan jika aku tidak menentukan penggantiku, maka itu pun telah dilakukan oleh orang yang lebih baik dari diriku ( maksudnya Rasulullah ).”

Imam Ahmad, dan juga Imam Al Baihaqi dalam kitab Dalail An Nubuwwah dengan sanad yang hasan dari Amr bin Sufyan dia berkata, “ Tatkala Ali memenangkan perang Jamal, dia berkata, “ Wahai sekalian manusia , sesungguhnya kami dahulu tidak menunjuk seorang pun dalam masalah kepemimpinan ini hingga kami sepakat untuk mengangkat Abu Bakar sebagai Khalifah pengganti Rasulullah. Dia menunaikan kekhalifahan itu dengan jujur dan lurus hingga menemui ajalnya. Kemudia Abu Bakar menunjuk Umar sebagai penggantinya. Lalu Umar menunaikan kekhalifahan itu dengan jujur dan sangat baik dalam agamanya. Namun kemudian muncul berbagai masalah yang Allah tentukan.”

Al Hakim meriwayatkan di dalam Al Mustadrak dan dinyatakan shahih oleh Imam Al Baihaqi dalam Dalail An Nubuwwah dari Abi Wail dia berkata : dikatakan kepada Ali,” Tidakkah engkau tentukan pengganti yang memimpin kami?” Dia menjawab,” Rasulullah tidak menentukan penggantinya atas kami. Namun jika Allah menginginkan kebaikan, niscaya dia akan menghimpun manusia kepada orang terbaik diantara mereka, sebagaimana dia telah kumpulkan perkara ini kepada orang terbaik setelah nabi mereka.”

Adz Dzahabi berkata,” Ada kebatilan – kebatilan yang datang dari kalangan Rafidhah yang menyatakan bahwa Rasulullah mewasiatkan kepada Ali untuk menjadi penggantinya. Mengenai hal ini, Hudzail bin Syarahbil berkata,” Apakah dengan demikian Abu Bakar melakukan konspirasi kepada Ali, sebab Abu Bakar mengetahui tentang adanya wasiat itu pada Ali lalu dia sumpal mulutnya dengan tali kekang?” ( HR. Ibnu Sa’ad dan Al Baihaqi dalam Dalail)

Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Al Hasan, dia berkata, Ali berkata. “ Tatkala Rasulullah wafat kita melihat bagaimana yang harus kita lakukan setelah meninggalnya Rasulullah. Setelah kami memandang dengan seksama maka kami dapatkan Rasulullah telah mengutamakan Abu Bakar untuk menjadi imam shalat sebagai pengantinya. Makanya kami rela menyerahkan urursan dunia kami kepada orang yang Rasulullah sendiri rela menyerahkan urusan agama kami kepadanya. Lalu kami majukan Abu Bakar sebagai pengganti Rasulullah.”

Imam Al Bukhari dalam buku tarikhnya menyatakan : diriwayatkan dari Ibnu Jamhan dari Safinah bahwa Rasulullah berkata mengenai Abu Bakar, Umar dan Utsman :

“ Mereka adalah para khalifah setelah aku.”

Imam Bukhari menyatakan : namun hadits ini tidak bisa diikuti karena Umar, Ali dan Utsman mengatakan bahwa Rasulullah tidak menentukan penggantinya setelah wafatnya. Hadits yang disebutkan diatas diriwayatkan oleh Ibnu Hibban. Dia berkata, telah berkata kepada kami Abu Ya’la, telah berkata kepada kami Yahya Al Jamani, telah berkata kepada kami Hasyraj dari Said bin Jamhan dari Safinah dia berkata, tatkala Rasulullah membangun masjid, beliau meletakkan satu batu dalam bangunan masjid itu. Beliau berkata kepada Abu Bakar,” Letakkan batumu disamping batuku tadi.” Kemudian baliau berkata kepada Umar,” Letakkan batumu disamping batu Abu Bakar.” Selanjutnya beliau berkata kepada Utsman, “ Letakkan batumu disamping batu Umar.” Kemudian Rasulullah berkata:

“ Mereka adalah para khalifah setelah aku.”

Abu Zur’ah berkata, isnad hadits ini tidak ada yang tercela. Hadits ini juga diriwayatkan Al Hakim dalam kitabnya Al Mustadrak, yang dinyatakan keshahihannya oleh Imam Al Baihaqi dalam Ad Dalail.

Saya katakan bahwa tidak ada yang bertentangan antara apa yang dinyatakan Rasulullah dengan apa yang dikatakan oleh Umar dan Ali bahwa Rasulullah tidak menentukan penggantinya. Karena yang dimaksud oleh keduanya adalah bahwa Rasulullah saat wafatnya tidak menunjuk siapa penggantinya. Sedangkan isyarat Rasulullah yang disebutkan dalam hadits terungkap jauh – jauh sebelum wafat beliau. Ini sama dengan hadits Rasulullah dalam hadits yang lain:

“ Hendaknya kalian mengikuti sunnahku dan sunnah para Khulafa’ur Rasyidin yang mendapat petunjuk setelah aku.” ( HR.Al Hakim dari hadits Al Irbadh bin Sariyah )

Dan sebagaimana juga sabdanya :

“ Ikutilah jejak langkah dua orang setelah wafatku, Abu Bakar dan Umar.”

Dan masih banyak lagi hadits – hadits lain yang mengisyaratkan pada khalifah.


Sumber : Buku Tarikh Khulafa’, Karya Imam As Suyuti Penerbit : Pustaka Al Kautsar

Minggu, 29 November 2009

Orang Bijak dan Anak Kecil

Seorang bijak, sebagaimana disebutkan dalam buku 65 Kisah Teladan karya Muhammad Sulthan, suatu hari mengajukan pertanyaan kepada seorang anak kecil yang selalu aktif mengikuti shalat Shubuh berjama'ah di masjid. Sang hakim ingin mengetahui, apakah anak itu mengerjakan shalat sebagai kebiasaan saja, ataukah karena kewajiban.

"Wahai anakku, manakah yang lebih utama menurutmu; harta atau akal?" tanya hakim.
"Akal," jawab anak itu.
"Mengapa?" Anak itu menjawab, "Karena akal akan mendatangkan harta, sedangkan harta akan menghilangkan akal."

"Harta atau keadilan?" tanya orang itu lagi. "Keadilan."
"Mengapa?"
"Karena harta akan melindungi pemiliknya dari kezaliman di saat keadilan tiada, sehingga dia menjadi tujuan saat ketidakadilan didapatkan, maka harta hanyalah perantara saja, bukan tujuan."

Lalu hakim bertanya lagi, "Harta atau kekuasaan?"
"Harta," jawab anak kecil itu.
"Mengapa?"
"Karena harta akan menjadi perantaraku untuk menguasai hati apabila kubelanjakan dalam kebaikan. Sedangkan kekuasaan terhadap hati lebih agung. Adapun kekuasaan duniawi seringkali menjadikan aku durhaka dan melampaui batas. Lalu aku berbuat zalim, sehingga aku kehilangan kekuasaan atas hati dan orang-orang sekitarku akan mengincar aku."

"Wahai anakku, harta ataukah teman?"
"Teman. Karena dengan harta saja aku tidak mampu mendapatkan seluruh keinginanku. Tetapi dengan berteman, aku dapatkan semua yang aku inginkan." .

"Harta atau kesehatan?" "Kesehatan. Karena kesehatan akan mendatangkan harta. Sedangkan harta secara sendirian tidak mampu mendatangkan kesehatan."

"Aku atau kamu?" tanya ahli hikmah itu mengakhiri pertanyaannya.
"Engkau dan aku. Engkau adalah sungai yang penuh mengalirkan hikmah dan ilmu. Sedangkan kami adalah tumbuhan yang minum darinya."
"Sungguh, hatiku dingin tenteram mengetahui jawabanmu, anakku. Semoga Allah melimpahkan berkah kepadamu. Jagalah (hak-hak) Allah," tutur sang ahli hikmah.

Ahmad Haykel

Membela AI-Qur'an

Oleh : Herry Nurdi
Pemerhati Masalah Keagamaan

Samuel Zwemmer dalam Konferensi Gereja di Yerussalem tahun 1935 pernah berkata, "Tujuan kita adalah secara langsung mengkristenkan Muslim. Tapi hal itu tidak sanggup kita laksanakan. Namun yang perlu diingat adalah menjauhkan Mus¬lim dari Islam. Ini yang harus kita capai walaupun mereka tidak bergabung dengan kita."

Untuk menyukseskan agendanya ini, setidaknya dalam paparan Samuel Zwemmer memiliki dua strategi: Penghancuran dan Pembinaan. Penghancuran adalah menge-luarkan orang dari agama mereka, tak masalah menjadi atheis atau bukan, yang penting keluar dari Islam. Pembinaan adalah cara memasukkan dan membina orang-orang ke dalam Kerajaan Tuhan, Kerajaan Kristus. Agar orang-orang tak memikirkan agama, rusaklah mereka dan buat mereka sibuk dengan seks, hiburan, obat-obatan dan segalanya, bahkan sepak bola. Bahkan, ketika beberapa orang yang sangat kecil jumlahnya mulai menyibukkan diri untuk mempelajari, sumber-sumber agama pun telah dicemari dan dirusak secara nyata.

Samuel Zwemmer yang menjadi Ketua Misi Kristen untuk negara-negara Arab, dan juga Ketua Persekutuan Kristen Timur Tengah dengan tegas mengatakan, tugas seorang Kristen bukanlah menghancurkan kaum Muslimin. Tapi memisahkan kaum Muslimin dari Islam. Agar mereka menjadi seorang Muslim yang tak bermoral dan tak memiliki standar akhlak yang jelas. Dengan begitu, negeri-negeri Islam akan jatuh. Tujuan mereka, menciptakan generasi baru yang sesuai dengan kehendak kolonialisme, keinginan penjajah.

Hari ini kita mendapati berbagai golongan dan kelompok, yang seolah berlomba-lomba meruntuhkan Islam dari berbagai sudut serangan. Contoh sebuah kasus muncul yang mengatakan bahwa Islam adalah agama orang-orang Arab dan khusus untuk orang Arab. Maka orang non-Arab yang memeluk Islam sesungguhnya telah dibodohi oleh orang-orang Arab. Artinya, yang dituduhi membodohi oleh gerakan ini ujung-ujungnya adalah sosok mulia Nabi Muhammad saw, na'ud-zubillah.

Hal seperti ini, sama sekali bukan barang baru dalam sejarah perkembangan Islam. Kita bisa melacak pengaruh Orientalisme dalam gerakan Ingkar Sunnah yang menolak penggunaan hadits sebagai sumber hukum Islam. Kita bisa melacak ide perennial dalam gagasan keagamaan Lia dan Jamaah Salamullah yang ia bentuk. Bahkan serangan-serangan terhadap al-Qur'an, sudah jauh dan lebih radikal daripada diinjak-injak kaki-kaki laknat.
Kita harus marah ketika al Qur’an dinistakan dengan cara yang keji seperti diinjak-injak. Tapi seharusnya, kita jauh lebih marah ketika al-Qur'an secara substansi, makna dan hakikatnya dianiaya atas nama ilmiah. Hal ini telah berlangsung lama di negeri ini. Buku karangan Nasr Hamid Abu Zayd, yang berjudul Al-Qur'an Edisi Kritis telah lama terbit di Indo¬nesia. Bahkan dalam salah satu versi penerbitan, sudah mengalami cetak ulang yang keempat kali sejak tahun 2001 silam. Nasr Hamid yang dinyatakan oleh para ulama Al-Azhar sebagai seorang yang telah murtad, mengritisi al-Qur'an dari berbagai sisi. Mulai dari sejarah penyusunan sampai unsur filologi. Tujuannya satu, melakukan desakralisasi pada teks suci. Tapi tak banyak yang menggugat buku ini.

Bahkan ketika seorang sarjana Indonesia mengikuti hal yang sama, menerbitkan sebuah buku yang mengritisi al Qur’an, sekali lagi tak ada yang banyak memberikan perhatian. Adalah Taufik Adnan Amal, seorang pengajar di IAIN Alauddin Makassar, la menerbitkan sebuah buku berjudul Rekonstruksi Sejarah Al-Qur'an. Isinya, idem dito, tak beda jauh. Sama-sama memiliki semangat luar biasa dalam menggugat kesucian Al Qur’an yang menurut mereka telah mengalami infiltrasi politik dan kekuasaan dalam penyusunannya. Dan sekali lagi, tak ada yang meributkan.

Jika ditelusuri, usaha-usaha yang dilakukan oleh sarjana-sarjana yang notabene ada¬lah seorang Muslim, seperti Nasr Hamid Abu Zayd dan juga Taufik Adnan Amal, pada pangkalnya adalah usaha yang dirintis oleh para intelektual Yahudi dan Orientalis Misionaris.

Abraham Geiger, seorang pemimpin Yahudi dan pendiri mazhab Yahudi Liberal, menulis bahwa al-Qur'an adalah kitab suci yang mengadopsi banyak ajaran agama sebelumnya. la menulis, apa saja yang dipinjam Muhammad dari Yahudi dalam Was Mohamed aus dem Judenthume aufgenommen?

Lalu ada Theodore Noldeke sarjana Kris¬ten, pendeta dari Jerman yang mengatakan, "Kita menginginkan, misalnya, klasifikasi dan diskusi yang komprehensif mengenai segala elemen Yahudi dalam al-Qur'an; permulaan untuk menggalakkan ini telah dibuat oleh Geiger pada usia muda dalam esainya: apa yang telah dipinjam Muhammad dari Yahudi."

Theodore Noldeke mengatakan, bahwa Nabi Muhammad pernah lupa akan wahyu sebelumnya dan berbagai tuduhan lainnya. la juga mengatakan, bahwa al-Qur'an adalah karangan Muhammad dan menganggap al-Qur'an mengandung banyak kesalahan yang fatal. Noldeke mengatakan, Yahudi paling tolol sekalipun tidak akan melakukan kesalahan yang dilakukan oleh Muhammad, terutama ketika menjelaskan tentang Hamman yang disebutkan dalam al-Qur'an sebagai salah satu menteri dari Fir'aun.

Tapi lagi-lagi, tak banyak yang terusik de¬ngan kenyataan ini. Kaum Muslimin baru ber-gerak ketika mushaf al-Qur'an dimasukkan ke WC di dalam penjara Guantanamo. Kaum Muslimin baru bergerak ketika Rasulullah digambarkan dalam kartun. Kaum Muslimin baru peduli ketika sekumpulan orang aneh di Malang menginjak-injak al Qur'an tanpa alasan.

Sudah saatnya kaum Muslimin memperdalam perhatiannya pada al-Qur'an yang dilecehkan makna dan substansinya, lalu memberikan pembelaan yang tak kurang ilmiahnya. Bukan hanya emosi sesaat, kemudian hilang seiring berlalunya waktu."

Sumber : Majalah Sabili

Sabtu, 28 November 2009

ALLOH MAHA BESAR


Dalam kehidupan ini tidak ada yang tidak mungkin jika Alloh sudah berkendak. Karena sesungguhnya tidak ada yang mustahil bagi Alloh, Rabb sekalian alam. Ketika kita perhatikan alam sekitar kita, maka kita akan mendapati banyak hal yang menurut pikiran kita hal tersebut mustahil terjadi. Tetapi Alloh dengan kekuasaanNya menunjukan kepada kita bahwa Dialah yang berkuasa atas seluruh alam jagat raya ini.

Orang yang kaya bisa dengan mudah oleh Alloh jadikan miskin, orang yang selama ini dipandang terhormat oleh sebagian orang akan dengan mudah oleh Alloh dijadikan tidak terhormat, begitupun sebaliknya. Dan masih banyak lagi hal – hal nyata disekitar kita yang dengan setia akan selalu mengingatkan kita akan kebesaran Sang Penguasa Sejati yaitu Alloh Subhanallohu Ta’ala.

Kita sebagai manusia hanyalah seorang hamba, betapapun tingginya jabatan kita. Kita hanya seorang hamba betapapun kayanya kita. Kita hanya seorang hamba, betapapun berkuasanya kita didunia ini. Oleh karena itu tidak sepantasnya kita membusungkan dada karena sesungguhnya apa yang kita capai pada hakikatnya adalah pemberian Alloh Ta’ala. Ingatlah! Alloh memang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, tapi janga lupa akan kepedihan siksa Alloh yang maha dahsyat.

Sabtu, 17 Oktober 2009

7 Perkara Wasiat Rosululloh Kepada Abu Dzar


Abu Dzar berkata : " Aku diberi wasiat oleh junjunganku dengan tujuh perkara : Disuruhnya aku agar menyantuni orang - orang miskin dan mendekatkan diri kepada mereka...
Disuruhnya aku melihat kepada orang yang dibawahku dan bukan kepada orang yang diatasku ...
Disuruhnya aku agar tidak meminta sesuatu kepada orang lain ...
Disuruhnya aku agar menghubungkan tali silaturahim ...
Disuruhnya aku mengatakan yang haq walaupun pahit ...
Disuruhnya aku agar dalam menjalankan Agama Alloh, tidak takut celaan orang...
Dan disuruhnya aku agar memperbanyak menyebut : " Laa haula walaa quwwata illaa billah". 

Kamis, 15 Oktober 2009

Keistiqomahan Seorang Pejuang Sejati


ABDULLOH BIN UMAR
لقَدْ بَا يَعْتُ رَسُولَ الله صَلَّي اللهُ عَلَيهِ وَسَلّمَ فَمَا نَكَشْتُ
ُ وَلاَ بَدَّ لْتُ اِلَي يَوْمِي هَذَا وَمَا بَا يَعتُ صَا حِبَ فِتْنَةٍ  
وَلاَ أيقَظْتُ مُؤْمِنًا مِنْ مَرْ قَدِ هِ
" Saya telah bai'at kepada Rasululloh Shollallohu 'Alaihi Wassalam ... maka sampai saat ini,
saya tidak pernah membelot atau mungkir janji ...
Dan saya tidak pernah bai'at kepada pengobar fitnah ...
Dan tidak pula membangunkan
orang Mu'min dari tidurnya ..."

Abu Dzar : Pejuang Sejati yang hidup Sebatang Kara

Inilah Abu Dzar tokoh Pergerakan yang hidup  penuh dengan kesederhanaan jauh dari kemewahan duniawi sebagaimana tokoh - tokoh zaman sekarang, Hingga Rasululloh Sholallohu'alaihi Wassalam bersabda tentang kehidupannya yang sebatang kara ;

" Semoga Alloh melimpahkan rahmat - NYa kepada Abu Dzar... ! 

Ia berjalan sebatang kara ...

Meninggal sebatang kara ...

Dan dibangkitkan nanti sebatang kara ...

Begitulah setelah berlalu dua puluh tahun atau lebih perjalanan hidupnya, Abu Dzar wafat di padang pasir Rabadzah sebatang kara ..., setelah sebatang kara pula ia menempuh hidup yang luar biasa yang tak seorang pun dapat menyamainya. Dan dalam lembaran sejarah, ia muncul sebatang kara - yakni orang yang satu - satunya _ baik dalam keagungan zuhud maupun keluhuran citanya ..., dan kemudian di sisi Alloh ia akan dibangkitkan nanti sebagai tokoh satu - satunya pula, disebabkan dengan tumpukan jasa - jasanya yang tiada terpemadai banyaknya, serta tak ada lowongan bagi orang lain untuk berdampingan dengannya ... !

Rabu, 14 Oktober 2009

Kisah akhir seorang Pejuang Sejati yang dijamin masuk surga...

Berkata Khabbah Ibnul 'Urrat : " Kami hijrah dijalan Alloh bersama Rasululloh dengan mengharap keridhaan - Nya, hingga pastilah sudah pahala disisi Alloh. Diantara kami ada yang telah berlalu sebelum menikmati pahalanya di dunia ini sedikit pun juga. Diantaranya ialah Mush'ab bin Umair yang tewas di perang Uhud. Tak sehelai pun kain untuk menutupinya selain sehelai burdah. Seandainya ditaruh diatas kepalanya, terbukalah kedua belah kakinya. Sebaliknya bila ditutupkan kekakinya, terbukalah kepalanya. maka sabda Rasululloh : " Tutupkanlah kebagian kepalanya, dan kakinya tutupilah dengan rumput idzkhir!"
 

ShoutMix chat widget

[close]